Mira Lesmana

E-mail Print PDF

mira_lesmana_w200

Sore itu, janji ketemuan dengan Mira Lesmana, produser yang juga sesekali berperan sebagai sutradara dan penulis cerita film ini, terlaksana juga. IFI ikut membantu pembuatan film-film produksi Miles antara lain : UNTUK RENA dan GARASI.
Setiba di Miles Productions yang beralamat di bilangan, Jakarta Selatan, saya cuma menunggu sebentar. Tak lama kemudian, saya dipersilakan asistennya untuk naik ke lantai dua. “Yuk, ke ruangan saya saja,” ajak ibu dari Galih Galinggis dan Kafka Keandre yang akrab disapa Miles, kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964 ini mengajak saya. Dengan rambut ikal sedikit semburat warna merah tembaga di beberapa bagian, sore itu, Mira lebih terlihat santai ketimbang sibuk. Selanjutnya, obrolan dengan lulusan SMA di Ecolle International Independent, Sydney ini pun bergulir. Berikut petikannya :

Bagaimana Anda melihat kondisi dunia perfilman di Tanah Air belakangan ini?

Kita melihatnya harus dari dua sisi. Memang betul di satu sisi ada peningkatan dalam jumlah film yang diproduksi. Boleh dibilang, hampir setiap bulan ada. Semaraklah. Di sisi lain, sebenarnya ini tidak bisa dikatakan bahwa dunia perfilman Indonesia tengah bangkit. Karena bisa dikatakan bangkit bila infrastrukturnya sudah terbenahi dengan baik. Sekarang infrastrukturnya kan masih berantakan. Tidak ada pengaturan distribusi. Tidak ada proteksi atau policy yang jelas dari pemerintah untuk perlindungan film-film Indonesia. Jadi, sifatnya memang masih seporadis dan spontanious. Semua bisa bikin film. Dan dari sisi negatifnya, yang mungkin bisa terlihat adalah bahwa penonton kita mulai bingung.

Kenapa bisa terjadi seperti itu?


Karena sekarang ini, penonton ditempatkan pada satu pilihan, di mana dalam satu bulan bisa beredar  lebih dari empat film. Nggak mungkin kan mereka tonton semua dengan jadual edar yang bersamaan. Mereka bingung. Lain soal, kalau infrastrukturnya rapi.

Apa sih yang Anda maksud dengan infrastruktur tersebut?

Yang saya maksud, artinya perkembangan antara film yang diproduksi dengan apresiasi penonton film itu, jalannya berimbang. Mungkin seperti di Korea. Film apa pun, bisa tetap mencapai jumlah penonton yang tinggi. Karena di sana menonton film juga sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Sementara di kita belum.

Yang terjadi di sini seperti apa sih sebenarnya?

Supply melebihi demand. Seperti hukum marketing, biasanya kan kalau demand-nya tinggi, supply-nya ikut menyesuaikan.

Lalu, kenapa semua seperti tergoda untuk bikin film?

Karena semua orang melihat ada kemungkinan bisa dapat 2 juta penonton. Semua bisa bilang pasti bisa. Mumpung gitu. Jadi, di satu sisi ada unsur bisnis dan semua orang ingin ambil keuntungan dari sebuah film. Di sisi lain, glamours dan melihat semaraknya.


Oke. Tapi, bagaimana dengan hasilnya?

Saya pikir ada dua macam ya. Ada yang memang bisa bikin cepat sekali dan asal jadi. Mungkin hampir kayak kejar tayang untuk televisi. Tapi, ada juga yang melakukannya dengan hati-hati dan profesional. Dengan cara yang memang semestinya. Karena mereka tetap mementingkan yang namanya kualitas. Tapi, harus diingat, meski kita bicara kualitas, tetap jangan dibandingkan dengan film-film Hollywood.

Kenapa kita tidak boleh mencoba membandingkannya dengan film-film Hollywood?

Ya, ngga fair aja. Kan kita bikin film itu, angka rata-ratanya untuk standar produksi main di angka 3-5 Milyar. Dan angka ini mungkin hanyalah biaya untuk katering sebuah film Hollywood. Karena bagi insan-insan film Hollywood, angka 5 juta dolar itu, adalah low budget. Paling cuma untuk bikin film-film independent. Sedangkan untuk film-film yang diputar dan diminati banyak penonton, seperti Harry Potter atau yang lain, bisa sampai 200 juta dolar.

Bagaimana dengan apresiasi masyarakat kita terhadap film?

Saya pikir, mereka akhirnya memutuskan film yang sesuai dengan selera mereka sendiri. Karena ada yang melihat film itu sebagai media hiburan, ada juga yang melihat sebagai media yang bisa memberikan knowledge.

Ketika memproduksi sebuah film, apa yang menjadi perhatian utama Anda?

Saya kalau bekerja tidak market oriented. Saya selalu mencoba melihat, film-film kita ini kira-kira seperti apa sih target audience-nya. Yang akan menonton seperti apa sih. Sehingga saya dan teman-teman bisa bebas memilih tema. Baru nanti memikirkan harganya. Karena kita harus lihat kemampuan penonton kita. Saya tidak boleh bikin film yang terlalu mahal produksinya. Supaya tidak rugi terlalu besar. Makanya Miles itu genre-nya macam-macam. Ada anak-anak, remaja, dewasa. Jenisnya juga beda-beda. Kita senang bereksplorasi. Dan menurut saya ini penting.

Tujuan orang bikin film apa sih?

Secara prinsip ada tiga. Pertama, belajar film karena memang cinta film dan ingin berekspresi lewat film. Kedua, bisnis dan ingin mendapatkan untung yang besar. Ketiga, ingin mendapatkan perhatian publik. Entah itu famous atau popularitas atau itu exposure. Karena film itu kan kesannya glamours.

Komentar Anda dengan hadirnya IFI?

Bagus. Cuma harus diingat, meski sebagai investor bukan berarti dia bisa mendikte kita. Saya biasanya bikin film dulu, lalu cari investor. Karena saya tidak mau didikte. Saya pernah kerjasama dengan Telkomsel, Shower to Shower, A Mild. Intinya siapa saja bisa menjadi investor. Ini menarik buat kita para film maker.

(Ummy Siregar/ foto: dok.Miles)

Last Updated ( Monday, 28 December 2009 02:59 )  

Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home2/ificoid/public_html/id/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Film

Serigala Terakhir

Kisah persahabatan lima anak manusia

3 Doa 3 Cinta

Bercerita  tentang tiga sahabat, Huda, Rian dan Syahid

Coblos Cinta

Komedi parodi di kampus tentang persaingan dua kandidat

Radit dan Jani

Dua manusia yang menemukan cinta sejati

Berita

"3 Doa 3 Cinta" diputar di TV Malaysia

Ditayangkan perdana di TV Malaysia Astro

Radit dan Jani serta Coblos Cinta diputar di RCTI

Film Radit dan Jani serta Coblos Cinta tayang di RCTI

'Serigala Terakhir' Pays Homage to Hong Kong Cinema

Indonesian movie uses classic Hong Kong cinema elements in a local setting



Jaringan



facebook-48 twitter-48