Nia Dinata

E-mail Print PDF

nia-dinata_w200

Dengan cantik, sutradara Nia Dinata merajut tiga cerita yang berbeda tentang tiga potret kehidupan wanita yang mengalami nasib, berbagi cinta dengan wanita lain karena suaminya menikah lagi. Adalah Salma (Jajang C Noer yang tampil elegan, meski tatto tersembul di pergelangan tangannya membuat kita tak yakin bahwa ia seorang ginekolog dan muslimah yang taat). Di film ini Jajang berperan sebagai istri Pak Haji (El Manik yang tampil apik), seorang tokoh kaya-raya dengan rumah mewah yang sedang mencalonkan diri jadi caleg. Berputrakan satu orang, Nadim (diperankan Winky Wiryawan), Salma menemukan kenyataan pahit tentang hidup perkawinannya di sebuah peresmian perumahan mewah milik suaminya. Tiba-tiba lampu mati. Acara peresmian perumahan Salma Lestari gelap gulita. Pembicaraan basa-basi antara Indri (Nungky Kusumastuti), pemenang undian perumahan, dan Salma (Jajang C Noer), istri Pak Haji pemilik perumahan, terhenti. Begitu listrik menyala, anak perempuan Indri sudah berada di gendongan Pak Haji (El Manik). “Abah..! Ica mau ke Abah. Salma tertegun. Inilah jawaban dari kecurigaannya. Adegan ini menjadi sebuah ramuan dari Berbagi Suami, film terbaru karya Kalyana Shira Films yang juga didukung oleh IFI. Film ini dimotori Nia Dinata, perempuan kelahiran Jakarta, 4 Maret 1970 lulusan Jurusan Komunikasi Massa di Elizabethown College, Pennsylvania, dan alumni program khusus produksi film di New York University ini.  Dengan gayanya yang santai nia bertutur mengenai segala macam hal yang bersangkutan dengan film Indonesia. Berikut wawancaranya :

Apa yang harus dipikirkan agar film sukses di pasar?

Harus ada strategi selain kreatifitas dalam memproduksi sebuah film. Strategi tidak bisa jalan tanpa kreatifitas. Begitu juga sebaliknya. Padahal sekarang ini kan, peran penyandang dana atau para investor itu makin besar. Mereka makin tertarik untuk menyimpan uangnya di sektor perfilman. Cuma sayangnya juga, banyak penyandang dana yang tidak memikirkan skenario. Mereka cuma bilang, eh ceritanya menarik. Seharusnya bukan cuma sekadar menarik, tapi harus membaca interview skenario secara penuh. Jadi akan sangat bagus untuk melihat film ini akan working or not. Ini harus dipikirkan oleh para investor. Termasuk para film maker lainnya. Karena film-film kita itu punya potensi kok.Jangan sampai bikin film itu sia-sia, tidak layak ditonton, dan juga orang tidak mau menontonnya. Sampai akhirnya orang menggosip, bahwa film itu tidak bagus. Orang kan bisa jadi malas nontonnya karena worth of mouth itu lebih cepat. Jadi, penting sekali

Ada faktor lain yang Anda lihat kaitan sukses atau tidaknya film Indonesia?

Mungkin bukan sekadar sukses ya. Tapi juga bisa diterima oleh masyarakat kita. Dan untuk ini penting sekali peran jumlah bioskop. Ini tidak boleh dikesampingkan. Jumlah bioskop kita kan memang kurang. Harusnya sudah semakin banyak orang yang melirik untuk bikin bioskop. Harusnya mulai dipikirkan untuk meraih penonton dengan tiket yang tidak sampai seharga 25 ribu rupiah.

Bagaimana Anda melihat kondisi negara-negara lain jika kita hubungkan dengan film?

Saya rasa di USA maupun di Korea misalnya, orang yang banyak berperan di film, tidak melulu orang yang punya basic di film. Tapi juga dari kalangan pebisnis lain. Dan saya kira ini sih sah-sah saja. Jadi, sebenarnya, investor film itu, nggak usah dari bidang film. Yang penting kan dalam hal ini, minimal ada something in return. Sehingga para investor tidak merasa dirugikan.

Biar tidak merugi, tanggung jawab itu ada pada siapa sebenarnya?

Pada film maker-nya. Mereka harus bisa bikin film yang baik. Dan yang kedua, pada investornya sendiri. Dia harus bisa membaca skenario. Dan bacanya harus penuh. Harus tahu karakter yang diinginkan. Istilahnya teliti dahulu sebelum spending uangnya. Meski pun akhirnya, tidak ada bisnis yang tidak beresiko. Tapi, yang penting adalah bahwa resiko itu sudah diperhitungkan dengan strategi yang matang.


Anda sendiri, kenapa lebih memilih jenis-jenis film yang diangkat dari realitas sehari-hari?

Alasannya sederhana. Karena saya tidak suka film horor. Hahaha….Tapi, sejujurnya, saya juga nggak tahu. Mungkin menurut saya, saya terlalu bego ya. IQ saya nggak nyampe bikin sesuatu yang butuh hayalan terlalu tinggi. Atau saya harus menghayal tentang even film horor, soalnya pikiran saya nggak nyampe ke sana. Jadi, saya cuma bisa lihat dari kehidupan sehari-hari. Ini kok lucu ya. Saya bisa menghayal. Base on that, move on that cases, saya baru bikin cerita. Lalu dituangkan lebih detil ke film.

Apakah kehadiran IFI bisa menjadi salah satu solusi dalam hal kendala dana dalam dunia perfilman Indonesia?

Bisa saja. Tapi, juga bikin investor makin cerdas. Jadi, dengan adanya IFI ini, saya berharap investor makin cerdas memilih film yang mau dia invest. Karena film itu umurnya panjang. Investor itu harus tahu, jumlah harga jual tiket dengan jumlah penonton, mulai dari yang tiketnya mahal sampai yang rata-rata 25 ribuan. Kalau kita ambil contoh, di Amerika itu yang dilihat adalah income. Bukan dari jumlah penonton. Sekarang begini, jumlah penonton 100 ribu orang dengan tiket 50 ribu, akan berbeda dengan jumlah penonton 500 ribu dengan harga tiket 10 ribu. Ini harus benar-benar diperhatikan oleh para investor.

Jangan lupa juga, saya bilang tadi film itu umurnya panjang. Dari bioskop, bisa masuk ke home video, dan ini harus dipromosikan agar masyarakat tahu oh sudah ada DVD-nya. Dari situ ke TV. TV itu ada second run-nya. Nanti sesudah di TV habis, akan pindah ke stasiun TV yang lain lagi. Sudah pada antri beli right-nya. Jadi, kalau mau invest di film, seharusnya investor mau mengikuti perjalanan yang panjang. Jangan Cuma depannya aja. Bioskopnya juga harus dilihat. Belum lagi sekarang ini banyak cable TV.

Dalam membuat film, apa yang paling penting bagi Anda?


Cerita dulu. Selebihnya saling menunjang. Cerita sudah bagus, akan semakin menarik bila pemainnya juga tepat


Berapa biaya produksi yang Anda keluarkan untuk pembuatan film?

Standar ya. Sekitar 4-5 Milyar. Dan tentu saja, kualitas tetap saya utamakan. Yang penting bagi saya, bikin film itu adalah hobi saya. Dari hobi menjadi satu kebutuhan menyampaikan satu cerita ke masyarakat. Dan akhirnya ada satu komentar dari masyarakat tentang film saya, itu adalah satu kesenangan yang luar biasa. Lalu, film-film saya bisa masuk ajang festival, sudah pasti menjadi salah satu tujuan saya, walaupun tidak harus mendapatkan award tertentu. Karena yang paling penting bagi saya adalah saya bisa mendapatkan feed back atau masukan dari penonton di luar orang Indonesia. Saya senang belajar banyak dari komentar orang, reaksi orang, dan kesan-kesan mereka tentang film-film Indonesia.
(Ummy Siregar/ foto: dok.Pribadi)

Last Updated ( Monday, 28 December 2009 02:56 )  

Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home2/ificoid/public_html/id/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Film

Serigala Terakhir

Kisah persahabatan lima anak manusia

3 Doa 3 Cinta

Bercerita  tentang tiga sahabat, Huda, Rian dan Syahid

Coblos Cinta

Komedi parodi di kampus tentang persaingan dua kandidat

Radit dan Jani

Dua manusia yang menemukan cinta sejati

Berita

"3 Doa 3 Cinta" diputar di TV Malaysia

Ditayangkan perdana di TV Malaysia Astro

Radit dan Jani serta Coblos Cinta diputar di RCTI

Film Radit dan Jani serta Coblos Cinta tayang di RCTI

'Serigala Terakhir' Pays Homage to Hong Kong Cinema

Indonesian movie uses classic Hong Kong cinema elements in a local setting



Jaringan



facebook-48 twitter-48